Thursday, December 12, 2013

Novel Kemarau: Keberanian A.A. Navis Berjuang Mengubah Paradigma yang Membiasa dalam Masyarakat Minangkabau

Novel Kemarau:
Keberanian A.A. Navis Berjuang Mengubah Paradigma yang Membiasa dalam Masyarakat Minangkabau


http://1.bp.blogspot.com/-yRbA7jzHQUk/T0hvxfpR3xI/AAAAAAAAGms/ccb1FWPZI3I/s200/Cover%2BKemarau.jpg1.                              Deskripsi fisik buku

Judul                                    : Kemarau
Pengarang                            : A.A. Navis
Kata Pengantar                   : Sapardi Djoko Damono
Penerbit, Kota                     : Grasindo, Jakarta
Tahun terbit                        : 2003
Cetakan ke-                         : 6 (enam)
Jumlah halaman                  : i-x; 117 halaman
Ukuran                                 : 14 X 21 cm


2.                              Sinopsis

Musim kemarau yang melanda kali ini lebih panjang dari biasanya hingga merusak lahan pertanian dan tanamannya. Upaya dilakukan untuk mengatasi hal itu, bahkan pergi ke dukun untuk mendatangkan hujan. Nmaun, hasilnya tak berwujud. Penduduk daerah itu mulai putus asa dan mengisi waktunya dengan kegiatan yang tak produktif, seperti main domino, kartu lainnya, bahkan hanya ngobrol bersama.
            Tatkala orang-orang berpangku tangan berserah pada nasib, Sutan Duano mengangkut air danau yang ada di daerah itu untuk menyiram sawahnya. Secara rutin kegiatan itu dilakukannya pada pagi dan sore hari. Ia memang bukanlah penduduk asli daerah tersebut, melainkan seorang pendatang baru, yang tak diketahui oleh orang-orang di daerah itu asal muasalnya. Wali Nagari atau kepala desa telah mengizinkan Sutan Duano menempati sebuah surau tua yang lapuk.
            Saat Belanda mencoba menduduki kembali Indonesia, surau tempat tinggal Sutan Duano kedatangan seorang Haji Tumbijo, teman baik yang dikenalnya saat tinggal di kota. Ketika Haji Tuimbijo hendak kembali ke kota, ia berkata kepada Wali Nagari, “Ia sudah berubah. Ia akan menjadi orang yang berguna di sini” (Navis, 2003:4).
            Situasi politik yang berkembang saat itu membuat orang berubah pola pikirnya. Mereka mulai berganti sudut pandang tentang hidup dan kesulitan kehidupan. Pola hidup lama berubah ke dalam kegiatan mengikuti kursus baca tulis, kursus lain, bahkan kursus politik. Di sisi lain seorang Sutan Duano juga memulai hidup barunya dengan kegiatan mengolah lahan pertanian yang tak terawat, memelihara ternak, bahkan membeli beruk untuk memanjat kelapa.  Akibatnya, ketika orang mulai bosan dengan kegiatan kursus dan politiknya sementara kesulitan ekonomi terus menghadang, Sutan Duano telah menjadi seorang yang cukup berada di kampung itu dan akhirnya disegani oleh orang-orang sekitarnya.
            Keseganan masyarakat sekitar bukan karena kekayaan Sutan Duano, melainkan karena kebaikan hatinya. Secara bertahap Sutan Duano bisa memimpin para petani untuk mengerjakan sawahnya, menghapus sistem ijon dan tengkulak, serta mendirikan koperasi. Hal itu memperkokoh kepercayaan masyarakat kepada Sutan Duano hingga akhirnya dia diberi kepercayaan untuk menggantikan guru agama yang baru saja meninggal dunia. Maka, suraunya mulai ramai dikunjungi orang untjuk mengikuti pengajiannya.
            Langkah keberhasilan Sutan Dunao tersebut sesungguhnnya bermula dari Sutan Caniago, seorang petani yang hendak menjual padinya dengan sistem ijon karena butuh modal untuk berdagang di rantau. Ia berharap bisa mengubah nasibnya. ”Jangan bermain judi dengan nasib, Sutan,” kata Sutan Duano kepada lelaki itu. Sutan Duano juga menasihati lelaki itu membatalkan niatnya merantau ke kota. Di kota banyak godaan dan kemaksiatan. Kalau rajin, hidup di desa pun bisa membuat orang kaya dan berhasil. Namun, nasihat itu ditanggapi oleh Sutan Caniago sebagai penolakan permintaannya hingga membuatnya marah dan meningggalkan Sutan Duano.
            Esok harinya Sutan Duano mendatangi Sutan Caniago, lantaran ia ingat nasihat Haji Tumbijo serta niatnya utnuk mengubah perilaku dan kebiasaan penduduk agar hidup mereka menjadi lebih baik. Diberikannnya uang kepada Sutan Caniago sebagaimana diinginkan, namun ia memberi syarat harus menyuratinya setiap bulan. Sutan Caniago mengikuti syarat itu hingga akhirnya ia mengucapkan terima kasih atas nasihat Sutan Duano di surau dulu. Pada surat keempat ditulisnya bahwa Sutan Duano hanya mengambil hasil panen  sebanyak uang yang diterimanya dulu, tidak mengambil seluruh hasil panen sebagaimana pengijon lazimnya. Sikap Sutan Duano ini menggemparkan isi kampung dan membuat keberadaannya semakin berarti bagi masyarakat.
            Sutan Duano juga mengajak penduduk bergotong royong menyiram sawah mereka dengan air danau yang terletak di pinggir kampung. Sutan Dunao mengajukan usul kepada Lembak Tuah, pemilik sawah terluas, serta Rajo Bodi, orang yang disegani. Namun, usulan itu ditolak dengan berbagai alasan. Mereka lebih senang pasrah kepada takdir yang diberikan Tuhan. Meskipun memiliki waktu dan tenaga untuk mengubah nasibnya, penduduk kampung lebih senang bermain kartu serta duduk-duduk ngobrol di lepau. Sutan Duano menyadari bahwa untuk mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat diperlukan waktu dan proses yang panjang. Lantas Sutan Duano berniat memulai rencananya itu dari diri sendiri mengangkut air danau dan menyiran sawah miliknya.
            Acin, seorang anak janda muda mendatangi Sutan Duano yang sedang beristirahat habis menyiram tanaman. Ditanyakan oleh Acin mengapa Sutan Duano melakukan hal itu. Sutan Duano mengatakan bahwa manusia harus bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya. Anggapan masyarakat terhadap apa yuang dilakukan oleh Sutan Duano merupakan kesalahan berpikir. Maka, diajaklah Acin untuk melakukan hal yang sama.
            Omongan dan tafsiran orang tentang apa yang dilakukan oleh Sutan Duano dan Acin beraneka ragam. Di lepau berkembang isu bahwa Sutan Duano ada maksud tertentu mendekati Acin kepada janda muda, ibunya, Gudam.. Gunjingan itu menghapus jejak langkah Sutan Duano yang baik selama ini. Di pinggir sungai tempat para wanita mandi berkembang gosip bahwa Sutan Duano memang mendekati Gudam, si janda muda itu, sebab ia belum memiliki istri.
            Dalam suatu pengajian Sutan Duanio mengajak para ibu bergotong royong menyiram sawah mereka. Mayoritas mereka menolak dengan berbagai alasan dalam kaitannya dengan gudam, si janda muda. Si janda muda itu juga tidak datang dalam pengajian karena malu dengan gosip dirinya dan Sutan Duano. Sutan Duano marah mendengar hal itu. Namun, gosip itu berkembang menjadi fitnah. Gudam melarang Acin menyiran sawah serta menemui Sutan Duano. Ketidakdatangan Acin membuat kegiatan menyiram sawah Sutan Duano menjadi kacau. Sutan Duano sudah menganggap Acin sebagai pengganti anaknya yang hilang dua puluh tahun lalu. Sutan Duano merasa kesepian, apalagi ketika pengajian tidak satu ibu pun yang datang ke surau.
            Acin pernah menanyakan isu itu kepada ibunya, tapi dijawab bahwa hal itu hanyalah sebagai kata-kata jahat. Namun, isu berkembang terus hingga si Acin pernah ditemui oleh Saniah, janda yang menginginkan Sutan Duano. Acin menjawab benar isu tersebut. Hati kecilnya menginginkan hal itu. Saniah menjadi cemburu hingga berpikir untuk membuat fitnah. Diberitakannnya kepada Acin bahwa Gudam telah pernah tidur dengan Sutan Duano yang masuk lewat jendela. Acin berubah pikiran hingga benci kepada Sutan Duano.
            Di surau, Kutar menemukan dan membaca surat yang dikirim Masri berisi Sutan Duano agar ke Surabaya. Masri merupakan anak Sutan Duano yang hilang dua puluh tahun yang lalu. Kutar menceritakan hal itu kepada Acin hingga membuatnya cemas. Acin memberanikan diri bertanya kepada Sutan Duano perihal itu dan dijawabnya akan pergi setelah musim panen. Hal itu membuat Acin ingin agar ia diajak pergi, bukan Kutar. Ditanyakan pula isu yang diucapkan Saniah tentang Sutan Duano dan ibunya. Sutan Duano berhasil meyakinkan Acin bahwa hal itu tidak benar.
            Berita rencana kepergian Sutan Duano cepat menyebar. Kutar memberitahukannya kepada semua orang. Oleh sebab itu, masyarakat menginginkan acara perpisahan sebagai tanda persahabatan dengan orang yang banyak menolong namun belum sempat ada balas budinya.
            Di surau, Sutan Duano membaca kembali surat kiriman Masri itu. Hal itu membuatnya teringat masa lalu. Memang ia ingat setelah kematian ibunya Masri, istrinya, berkali-kali ia mencari penggantinya, namun berakhir dengan perceraian. Salah satunya, Iyah namanya, diceraikan tatkala sedang hamil. Pengalaman kawin cerai itu membuatnya mengambil pelampiasan kesepiannya berkencan dengan wanita malam. Masri yang tumbuh remaja mengetahui hal itu sehingga ia marah. Hal itu membuat Sutan Duano bingung. Ia mengadukan kesepian dengan perbuatannya.
            Sutan Duano sempat dipenjara karena keributannya dengan teman kencan. Hal ini membuat Masri kabur tak tentu jejak langkahnya. Keluar dari penjara selama tiga tahun, Sutan Duano menjadi kesepian. Anak satu-satunya pergi tanpa jejak hingga membuat Sutan Duano semakin tak karuan arah hidupnya. Mabuk-mabukan merupakan pelariannya. Ia terus berusaha mencari Masri, namun tak menemukan jejak kakinya.
            Suatu hari datanglah Haji Tumbijo, kakak iparnya, menasihatinya:
Carilah ia dalam hatimu, seperti kau mencari Tuhan, mencari kebenaran. Carilah dengan pahala-pahala dan kebaikan. Kalau telah dapat itu, telah dapat pahala dan kebaikan, engkau sudah menemui Tuhan. Sudah menemui kebenaran. Dan di situlah Masri berada,” katanya (Navis, 1977:69).
            Kata-kata Haji Tumbijo itu menyentuh hati Sutan Duano. Maka, ia berusaha mengubah jalan hidupnya ke arah kebenaran serta  berusaha menolong orang lain. Ia berharap bahwa pola itu dapat memupus kesalahan dan dosa masa lalunya. Maka, kehadiran Acin dalam waktu hidupnya mengingatkannya pada Masri hingga disayanginya. Terlintas dalam benaknya untuk menikah, tetapi kegagalan perkawinan  kembali menghatuinya.
            Hal itu nampak tatkala Acin dan Gudam datang ke surau. Gudam meminta Sutan Duano menjadi ayah bagi anak-anaknya. Sutan mengatakan bahwa ia harus meninggalkan kampung tersbeut sebab harus menemui Masri  yang telah lama tak bertemu. Sutan tak memberi batas waktu kapan akan kembali hingga jawaban itu dianggap sebagai penolakan oleh Gudam.
            Beberapa orang menemui Sutan Duano di surau dan menanyakan langsung kepadanya perihal kabar rencana kepergiannya ke Surabaya. Banyak di antaranya yang merasa berutang budi pada Sutan Duano sebab upaya pengairan sawah oleh Sutan Duano banyak memberikan manfaat bagi kaum petani kampung itu. Mereka juga masih memerlukan gagasan Sutan Duano untuk kehidupan mereka dan meminta agar Sutan Duano tidak meninggalkan kampung mereka.
Sutan Duano memenuhi permintaan mereka. Kepergian Sutan Duano hanyalah menemui Masri, setelah itu kembali lagi ke kampung mereka. Ada surat dari mertua Masri yang sampai kepadanya bahwa Sutan Duano tak perlu ke Surabaya sebab kedatangannya justru akan merusak kebahagiaan keluarga Masri.      
Tatkala musim panen semakin mendekat, tiba-tiba datanglah pianggang (hama walang sangit) menyerang. Hal ini membuat Sutan Duano merasa mendapat cobaan baru. Maka disemprotlah sawahnya dengan antiserangga. Tetapi tiba-tiba kabar tak mengenakkan datang lagi, Acin sakit. Luka karena menyepak tahi kuda tatkala kesal dengan isu tingkah Sutan Duano tidur bersama ibunya membuatnya terkena tetanus. Kesulitan keuangan Gudam, ibu Acin, yang tak dibantu keluarganya untuk mengobatkan Acin ke Bukittingi akhirnya diatasi oleh Sutan Duano dengan janji bahwa Acin adalah anaknya juga. Sutan Duano dan Gudam akhirnya tumbuh cinta. Hal ini membuat Saniah cemburu dan memasang guna-guna di rumah Gudam yang sempat terlihat oleh Sutan Duano.
            Tatkala Gudam mengadakan syukuran atas kesembuhan Acin di rumahnya, Sutan Duano tak bersedia datang dengan alasan tak menyenangi pesta yang hanya untuk orang kaya. Gudam mendatangi Sutan Duano ke suraunya, tapi tetap tidak mau datang. Gudam merasa malu. Pulanglah dengan segera Gudam ke rumahnya. Di jalan gudam bertemu dengan Saniah yang menantangnya diiringi fitnah bahwa Gudam telah membayar utang kepada Sutan Duano dengan menjual dirinya. Maka, terjadilah perkelahian yang melibatkan keluarga kedua pihak hingga harus diakhiri oleh Wali Nagari. Rapat yang dipimpin oleh Wali Nagari itu sulit mncapai kata sepakat. Meski Wali Nagari berusaha membela Sutan Duano, rapat akhirnya memutuskan mengusir Sutan Duano dari kampung itu. Wali Nagari ditugasi oleh warga untuk menyampaikan putusan rapat.
            Akhirnya Wali Nagari dibantu oleh tokoh masyarakat mendatangi Sutan Dunao. Putusan rapat disampaikannya dengan berat hati. Sutan dengan keikhlasan menerima, dan mengatakan bahwa semua harta yang diperoleh dari kampung itu ditinggalkan dan piutangnya diserahkan kepada koperasi untuk menambah modal. Sutan Duano hanya memohon untuk bertemu dengan Acin sebelum ia berangkat, tetapi Gudam tidak mengizinkannya. Sutan Duano menyerahkan suat wasiatnya seluruh hartanya kepada Acin.
            Pergilah Sutan Duano meningalkan kampung itu menuju Surabaya. Ia langsung menuju ke rumah Masri. Ia malah bertemu dengan Iyah, istrinya dulu, yang ternyata adalah ibu Arni, istri Masri. Lebih tak disangkanya, ternyata Arni adalah anak kandungnya juga. Maka, terbongkarlah silsilah bahwa Masri dan Arni adalah kakak beradik, meski lain ibu. Hal itu sengaja tak diberitahukan oleh Iyah.  Iyah tidak ingin merusak kebahagiaan mereka berdua. Tetapi, Sutan Duano bersikeras memberitahukan hal terlarang itu kepada anaknya.
            Kedua orang tua itu bersitegang dengan pendapat masing-masing. Iyah yang merasa sakit hatinya lantas memukul Sutan Duano dengan kayu hingga pingsan dan berdarah. Datanglah Masri dan Asri yang kaget dengan peristiwa itu. Diceritakanlah oleh Iyah apa yang terjadi hingga ia tak kuat menahan diri, lalu pingsan. Bertahun-tahun  kemudian Iah meninggal di rumah sakit, tak lama setelah mebuka rahasia perkawinan Masri dan Arni.
            Masri dan Arni menyadari perkawian mereka dilarang agama. Maka, mereka berpisah. Tak lama kemudian Arni kemudian menikah dengan anak Haji Tumbijo, sedangkan Masri menikahi teman sekerjanya. Sutan Dunao pun kembali ke desa tepi danau, hidup rukun dengan  Gudam beserta anak-anaknya, Acin dan Amah. Perjuangan Sutan Duano belum selesai sebab alam pikiran warga kampung telah membeku. Hidup berjuang dengan keikhlasan adalah jalan untuk menemui Tuhan Yang Maha Esa. Demikian A.A. Navis mengakhiri novelnya.

3.          Latar Belakang Masalah
Haji Ali Akbar Navis, lebih dikenal dengan nama AA Navis, yang di kalangan sastrawan digelari sebagai kepala pencemooh. Ia salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya. Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya.
Indonesia kehilangan sastrawan fenomenal. Sang Pencemooh kelahiran Kampung Jawa, Padangpanjang, 17 November 1924, ini adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para kopruptor. Maka pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu risikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justeru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu.
Nama pria Minang yang untuk terkenal tidak harus merantau secara fisik, ini menjulang dalam sastra Indonesia sejak cerpennya yang fenomenal Robohnya Surau Kami terpilih menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah tahun 1955. Sebuah cerpen yang dinilai sangat berani. Kisah yang menjungkirbalikkan logika awam tentang bagaimana seorang alim justru dimasukkan ke dalam neraka. Karena dengan kealimannya, orang itu melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin.
Ia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Ia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi bamyak sastrawan. Ia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.
Ia yang mengaku mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Ia telah menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri dan dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan’. Novel terbarunya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2002.
Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (editor 1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Hujan Panas dan Kabut Musim (1990), Cerita Rakyat Sumbar (1994), dan Jodoh (1998).
Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Cerpenis gaek dari Padang, A.A. Navis pada 17 November lalu genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh buah cerpen yang ditulisnya sendiri, yakni Jodoh (cerpen pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldemroep 1975), Cerita 3 Malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Perebutan, Kawin (cerpen pemenang majalah Femina 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora dan Ibu. Ada yang ditulis tahun 1990-an ada yang ditulis tahun 1950-an.
Menulis bukanlah pekerjaan mudah, namun memerlukan energi pemikiran serius dan santai. ”Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa. Saya merasa tidak pernah tua dalam menulis segala sesuatu termasuk cerpen," katanya dalam suatu diskusi di Jakarta, dua tahun lalu.
Kiat menulis itu, menurutnya, adalah aktivitas menulis itu terus dilakukan, karena menulis itu sendiri harus dijadikan kebiasaan dan kebutuhan dalam kehidupan. Ia sendiri memang terus menulis, sepanjang hidup, sampai tua. Mengapa? ”Soalnya, senjata saya hanya menulis,” katanya. Baginya menulis adalah salah satu alat dalam kehidupannya. ”Menulis itu alat, bukan pula alat pokok untuk mencetuskan ideologi saya. Jadi waktu ada mood menulis novel, menulis novel. Ada mood menulis cerpen, ya menulis cerpen,” katanya seperti dikutip Kompas. Minggu, 7 Desember 1997.
Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.
Ia juga menyinggung tentang karya sastra yang baik. Yang terpenting bagi seorang sastrawan, menurutnya, karyanya awet atau tidak? Ada karya yang bagus, tapi seperti kereta api; lewat saja. Itu banyak dan di mana-mana terjadi. Ia sendiri mengaku menulis dengan satu visi. Ia bukan mencari ketenaran.
Dalam konteks ini, ia amat merisaukan pendidikan nasional saat ini. Dari SD sampai perguruan tinggi orang hanya boleh menerima, tidak diajarkan orang mengemukakan pikiran. Anak-anak tidak diajarkan pandai menulis oleh karena menulis itu membuka pikiran. Anak-anak tidak diajarkan membaca karena membaca itu memberikan anak-anak perbandingan-perbandingan. Di perguruan tinggi orang tidak pandai membaca, orang tidak pandai menulis, jadi terjadi pembodohan terhadap generasi-generasi akibat dari kekuasaan.
Jadi, menurutnya, model pendidikan sastra atau mengarang di Indonesia sekarang merupakan strategi atau pembodohan, agar orang tidak kritis. Maka, ia berharap, strategi pembodohan ini harus dilawan, harus diperbaiki. “Tapi saya pikir itu kebodohan. Orang Indonesia tidak punya strategi. Strategi ekonomi Indonesia itu apa? Strategi politik orang Indonesia itu apa? Strategi pendidikan orang Indonesia itu apa? Strategi kebudayaan orang Indonesia itu apa? Mau dijadikan apa bangsa kita? Kita tidak punya strategi. Oleh karena itu kita ajak mereka supaya tidak bodoh lagi,” katanya.
Maka, andai ia berkesempatan jadi menteri, ia akan memfungsikan sastra. ”Sekarang sastra itu fungsinya apa?” tanyanya lirih. Pelajaran sastra adalah pelajaran orang berpikir kritis. Orang berpikir kritis dan orang memahami konsep-konsep hidup. Kita baca, karya mana saja yang baik, itu berarti menyuruh orang berpikir berbuat betul. Lalu karya-karya itu konsepnya yang jahat lawan yang buruk. Dalam karya sastra bisa terjadi yang jahat itu yang dimenangkan, tapi bukan artinya sastra memuja yang jahat. Banyak karya-karya sastra di Indonesia menceritakan hal-hal orang-orang munafik. Diajarkan itu ke anak-anak tentang orang munafik di tengah masyarakat kita yang banyak munafik. Anak-anak kan jadi tajam. Oleh karena itu pemerintah tampaknya tidak mengajarkan sastra supaya orang tidak melihat orang-orang yang munafik, umpamanya.
Ia juga melihat perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. ”Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak,” ujarnya.
Perihal orang Minang, dirinya sendiri, ia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. Yang benar, penuh perhitungan. Ia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. Yang benar galia (galir), ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar). Itulah AA Navis Sang Kepala Pencemooh.[1]
Istilah sastra dapat ditemukan dalam berbagai konteks pernyataan yang berbeda satu sama lain. Maksudnya, sastra bukanlah sekadar istilah guna mengemukakan feomena yang sederhana atau gamblang, melainkan sastra memiliki arti luas dalam rangkaian yang berbeda.
Secara  signifikan, untuk memahami karya sastra secara lebih mendalam diperlukan tiga dorongan yang mendasari kehidupan manusia yang menjadi pusat perhatian kegiatan penulisan sastra sejak awal zaman hingga sekarang, yaitu dorongan religius, sosial, dan personal. [2] Religiusitas sastra nampak dalam kehidupan kebaktian beragama berdasarkan isnpirasi ajaran agama yang mencerminkan persepsi manusia sebagai `ciptaan`, keterlibatannya, serta sikap dan pandangan terhadap ciptaan  itu. Dorongan sosial berhubungan erat dengn tingkah laku dan hubungan antarindividu dalam komunitasnya. Di dalamnya, dorongan sosial tersebut menghasilkan karya-karya sastra yang bernuansa nilai-nilai hakikat hidup dan khidupan serta problema manusia di dalamnya. Dorongan personal mengarah pada penjelajahan pribadi hingga muncullah biografi atau otobiografi, bahkan penulis berusaha menjelajahi sisi pribadi dan kadang ingin mengubah alam kesadaran manusia. Karya sastra seringkali mengngkapkan keprihatinan penulis terhadap hakikat nilai-nilai dalam kaitannya dengan eksistensi manusia.
Novel Kemarau merupakan karya sastra yang secara historis muncul dalam bentuk cerita bersambung yang dimuat dalam Harian Res Publica, Padang, tahun 1964. [3] Oleh Penerbit Nusantara, Bukittinggi, karya tersebut diterbitkan dalam bentuk novel, yang kemudian diolah lagi oleh Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, tahun 1997, dan mulai tahun 1992 diolah oleh Penerbit Grasindo, Jakarta.
Novel Kemarau banyak dibicarakan oleh para kritikus dari berbagai sudut pandang. Masalah yang diungkapkan dalam novel ini selalu menarik dan layak bahas hingga kini. Gaya penyampaian pengarang memberikan kesan tersendiri, ada yang menganggapnya satiris berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan manusia dan  lingkungannya. Tokoh cerita digunakan oleh pengarang untuk mengungkapkan sikap dan perjuangan yang perlu dilakukan untuk mengubah paradigma yang mengikat dan telah membiasa dalam pikiran, perkataan, dan perilaku perbuatan.



4.          Tinjauan pustaka

Sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan sendiri adalah anggota masyarakat yang terikat status sosial tertentu dan tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkan sekaligus membentuknya. Rene Wellek dan Austin Warren membahas hubungan sastra dan masyarakat sebagai berikut:

Literature is a social institution, using as its medium language, a social creation. They are conventions and norm which could have arisen only in society. But, furthermore, literature ‘represent’ ‘life’; and ‘life’ is, in large measure, a social reality, eventhough the natural world and the inner or subjective world of the individual have also been objects of literary ‘imitation’. The poet himself is a member of society, possesed of a specific social status; he recieves some degree of social recognition and reward; he addresses an audience, however hypothetical. (1956:94)[4]

Senada dengan pernyataan di atas, Damono dikutip Wahyudi Siswanto (2008) dalam Pengantar Teori Sastra mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial. Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan antarmasyarakat, antarmasyarakat dengan orang-seorang, antarmanusia, dan antarperistiwa yang terjadi dalam batin seseorang Bagaimanapun, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan hubungan seseorang dengan orang lain atau dengan masyarakat dan menumbuhkan sikap sosial tertentu atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu.[5]
Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra dengan menggunakan analisis teks untuk mengetahiu strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam lagi gejala sosial yang di luar sastra.
Sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat sebagai usaha manusia untuk menyesuakan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Dengan demikian, novel dapat dianggap sebagai usaha untuk menciptakan kembali dunia sosial yaitu hubungan manusia dengan keluarga, lingkungan, politik, negara, ekonomi, dan sebagainya. Dapat disimpulkan bahwa sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap. Tujuan studi sosiologis dalam kesusastraan adalah untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai hubungan antara pengarang, karya sastra, dan masyarakat.
Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Pandangan tersebut beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi struktur sosial hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah mengubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya. Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra yang bersifat pribadi itu harus diubah menjadi hal-hal yang bersifat sosial.
Di sisi lain, sastra sebagai suatu alat dapat memberikan perjuangan pada kepentingan tertentu, misalnya untuk mendidik dan mengubah masyarakat pembacanya. Di samping juga mencerminkan kenyataan, sastra mampu `mengubah kenyataan` -meski tidak langsung- sehingga dapat membuka mata masyarakat terhadap ketidakberesan apa pun, kebobrokan moral, bahkan kebejatan mentalitas yang terjadi dalam masyarakat.

5.          Penerapan

Novel Kemarau dikemas dalam 20 bab oleh pengarangnya, diakhiri dengan bagian penutup. Sayangnya tidak ada bagian pendahuluan secara eksplisit, meskipun hal yang dimaksud sama dengan Bab 1 dalam novel itu.
Kondisi masyarakat yang masih tradisonal dan memegang keyakinan di luar ajaran agama terlihat dalam Bab 1 tatkala pengarang membuat deskripsi latar cerita awal.

”Dan setelah tanah sawah mulai merekah, mulailah mereka berpikir. Ada beberapa orang pergi ke dukun, dukun yang terkenal bisa menangkis dan menurunkan hujan, Tapi dukun itu tak juga bisa berbuat apa-apa setelah setumpuk sabut kelapa dipanggangnya bersama sekepal kemenyan. Hanya asap tebal yang mengepul di sekitar rumah dukun itu terbang ke sawang bersama manteranya. ... Mereka pergilah setiap malam ke mesjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga.”

     (Navis, 2003: 1).

Sutan Duano dikisahkan sebagai tokoh yang mempunyai niat dan semangat untuk mengubah kerangka berpikir warga kampung sekitar tempat tinggalnya. Ia berjuang di tengah masyarakatnya untuk megubah watak masyarakat yang terbiasa menyerah pada takdir daripada bekerja keras `melawan nasib` guna memperbaiki kehidupannya.

”Hanya seorang petani saja berbuat lain. Ia seorang laki-laki sekitar 50 tahun. Badannya kekar dan tampang orangnya  bersegi empat bagai kotak dengan kulitnya yang hitam oleh bakaran matahari. Pada ketika bendar-bendar tak mengalir lagi, sawah-sawah mulai kering matahari masih bersinar maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Dan dua belek minyak tanah dan digantungkannya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air ke danau dan ditumpahkannya ke sawahnya. Ia mulai dari subuh dan berhenti pada jam sembilan pagi. Lalu dimulainya lagi sesudah asar, dan berhenti waktu magrib hapmpir tiba. Dan beberapa kali mengangkut tak dilupakannya mengisi kedua kolam ikannya. Untungnya sawahnya yang luas itu tidak begitu jauh dari tepi danau. Laki-laki itu bernama Sutan Duano.”
(Navis, 2003:1-2).

Pengarang menggunakan Sutan Duano sebagai profil ideal gambaran pribadi yang mempunyai niat dan semangat mengubah hidupnya di tengah lingkungan dan zaman yang tak bersahabat. Kerajinannya bekerja secara rutin dan teratur dengan memiliki agenda kegiatan dan jadwal yang tersusun dalam pikiran dan pola kebiasaan hidupnya terungkap dalam diri tokoh Sutan Duano meski hal itu sering tidak sejalan dengan keadaan lingkungan sosialnya. Misalnya ketika dia mempunyai idealisme mendidik hidup sehat.

”Kolam ikan yang kecil diperbaikinya. Disemainya anak ikan di dalamnya, lalu dibuatnya pula sebuah kakus umum di teopib kolan itu agar orang berak di sana dan ikannya mendapat makan. Dan sebidang tanah yang berbatu-batu di kaki bukit, di mana sebelumnya tak seorang pun berselera mengolahnya meski musim lapar itu, dimintanya untu dikerjakan.”

(Navis, 2003: 3)

Sikap dan perjuangan Sutan Duano sebenarnya merupakan cara pengarang mendidik masyarakat agar mengubah budaya perilaku yang tidak produktif sesuai dengan tuntutan zaman. Birokrasi yang membudaya dalam adat Wali nagari yang egois untuk kepentingan nafsu diri harus diatasi oleh Sutan Duano.

”Di waktu itulah  Sutan Dunao memulai suatu kehidupan baru. Beberapa bidang sawah yang terlantar diminta izin pada yang punya untuk dikerjakan. Sapi-sapi yang tak terrgembalakan lagi ditampungnya dengan perjanjian sedua.”
(Navis, 2003: 5)

 Sikap dan perbuatan yang semula mendapat cacian dan hinaan akhirnya membawa hasil yang positif sehingga masyarakat pelan-pelan mengakuinya. Sutan Duano juga digunakan oleh pengarang untuk mengubah sistem pinjam-meminjam uang serta budaya yang tak baik.
”Tapi Sutan Duano sudah termasuk jadi orang yang berada di kalangan rakyat di kampung itu. ... Karenanya ia sudah menjadi orang yang berarti dan disegani oleh semua orang. Tapi bukan karena kayanya. Melainkan karena kebaikan hatinya, dipercaya, dan suka menolong setiap orang yang kesulitan. Lambat-lambat ia jadi pemimopin di kalangan petani untuk mengerjakan sawah. ... Sistem ijon diusahakannya melenyapkannya dengan meminjamkan uangnya  sendiri tanpa bunga.”
                                                                                   
(Navis, 2003: 6)

Sutan Duano juga digunakan oleh A.A. navis untuk mendidik masyarakjat agar jangan suka mengadu nasib ke daerah lain-kota dengan budayanta meminjam untuk modal usahanya.

Sebulan setelah lamanya laki-laki itu di rantau, datangklah suratnya yang mengatakan ia telah memulai kelilingh, berdagang baju konveksi. ... Akhirnya, pada surat yang keempat, dikatakannya bahwa ia mertasa sangat terharu karena Sutan Duano telah mengembalikan hasil padinya yang dijualnya dengan hanya memotong seharga uang yang diberikannya dulu.”
                                                                                    (Navis, 2003: 12)

Niat Sutan Duano begitu besar untuk mengubah plola hidup masyarakat memang banyak mengalami hambatan, baik dari Wali Negeri, tokoh masyarakat, orang terrkaya, tokoh petani. Tetapi niat besar tersebut tidak menyusut.

”Yang dimauinya ialah hendak mengubah cara hidup orang di kampung itu. Mereka terlalu banyak membuang waktu. Lalai bila mereka menganggap pekerjaan telah habis. Sedang sebenarnya meereka itu adalah bangsa yang ulet dan rajin. Ia selalu melihat betapa rajinmnya mereka bila musim ke sawah tiba. ...Tetapi... tak tentu lagi apa yang mereka perbuat. Mereka akan mengabiskan waktunya di kedai kopi, nongkrong atau main domino. Menurut pendapat Sutan Duano, bagi mereka itu harus dicarikan pekerjaan. Asal ada pekerjaan yang tersedia, tentulah mereka akan mau mengerjakannya. Mengubah pekerjaan bukanlah kebiasaan mereka. ... Mereka tidak bercita-cita mengubah hidup ke arah yang lebih tinggi... satu-satunya jalan bagi Sutan Duano ialah  memberi contoh bagaimana  mernjadi petani yang baik.”
(Navis, 2003: 17)

            Kesabaran dan ketabahan hati Sutan Duano amat teruji dan terukur dengan berbagai peristiwa yang dialaminya, baik pergunjingan, reaksi orang lain atas kebijakannya, maupun aksi sebagian orang. Kebimbangan kadang muncul dalam benaknya.

”`Bagaimana lagi cara aku mengubah jalan pkikiran orang di sini? Berapa lama aku dapat mengubahnya?  Namun, niatnya demikian kuat dengan langkah-langkah yang mapan,` katanya. ... `Agaknya ambisiku terlalu besar. Hatiku jadi sakit kalau gagal. Tetapi apakah ancaman kemarau ini tidak mamou membukakan mata mereka itu?`”
                                                                                                (Navis, 2003: 35)
           
”Tapi mengapa begitu? pikirnya kemudian. Apakah ini bukan suatu isyarat dari Tuhan bagiku? Tapi buat apa? Apakah hidupku di sini tak diridai-Nya? Tentu ada apa-apanya. Kalau tidak, tidak akan begini jadinya. Mungjkin juga aku disuruh pergi dari kamopung ini. Oleh penduduk di sini? Oh, tidak mungkin. Jadi, olerh siapa?”

                                                                                                            (Navis, 2003: 45)

            Cobaan dan hinaan yang kadang terencana oleh pihak tertentu sering membuat Sutan Duano juga berlatih kesabaran lebih jauh serta ketabahan dan kedewasaan bertindak.
           
            “`Bapak naik jendela Mak malam-malam. Etek Saniah bilang,`  kata Acin menantang.
            Terengah Sutan Duano mendengar kata anak itu. Ia tidak marah. Tidak pula mencoba meyakinkan Acin. Ia hanya terpulun oleh pikirannya sendiri. Dari mana anak itu bisa berpikir seburuk itu. Dan mengapa Saniah sampai berani berkata yang tidak-tidak. Apa maksud perempuan itu sebenarnya? Ia tak dapat memahami fitnah yang dilontarkan perempuan itu. Akirnya dilemparkannya pikirannya dari perempuan itu.”

                                                                                                (Navis, 2003: 55)

            Sikap dan ketulusan hatinya menolong sering membuat orang semakin simpati, namun hal itu tidak memperkuat hatinya tatkala problema psikologis muncul berkaitan dengan masa lalu. Memang, masa lalu sering menjerat orang dan menjebaknya dalam kerangkeng pikiran sempit yang merugikan untuk langkah berikutnya.

”`Kita aklan kehilanghan, kalau jadi ia pergi,` kata Uwo Bile.
`Orang kampung kita sudah terlalu banyak memakan budinya,1 ulas Datuk Sanga sambil memilin-milin kumisnya. `Tapi  di saat terakhir ini, kita tekah mengkhianatinya. Kita seolah sepakat saja menghindarkan diri dari padanya. Aku pun orang celaka, ikut-ikutaan pula menghindari diri.`”

                                                                                            (Navis, 2003: 59)

        ”Dan pintu itu terbuka, ia tertegun. Di lantai dilihatnya sepucuk surat. Surat yang berperangko. Selama ia menetap di kampung itu, itulah buat pertama kalinya ia menerima surat. Darahnya tersirap juga melihat surat yang tergeletak di lantai itu. ... Dibacanya alamat si pengirim. Tangannya jadi gemetar. Tercenung dan tak tahu ia apa yang hendak dilakukannya terlebih dulu. Surat itu ternyata dari anaknya di Surabaya.”

                                                                                            (Navis, 2003: 63)

            Masa lalu akhirnya disadari sebagai dosa yang harus ditebus dengan berbuat baik bagi orang lain agar memperoleh pahala. Hal ini  merupakan prinsip dasar yang memperkokoh perjuangan Sutan Duano dalam memperjuangkan niatnya mengubah rakyat sekitar tempat tinggalnya ke arah hidup yang lebih baik. Nasihat haji Tumbijo merasuk dalam hatinya.
           
“Tapi haji Tum bijo telah mengatakan padaku,`Kalau Masri, anakmu telah menemui kesengsaraan dan melakukan dosa-dosanya tersebab kau tak mampu mendidiknya selama ini, hapuslah dosanya itu dengan melakukan kebaikan bagi setiap kesengsaraan orang lain. Hadiahkan pahalamu itu semua buat keselamatannya. Mudah-mudahan Tuhan menerimanya. Kalau Masri masih hiduop, dengan perbuatan baikmu yang kauitikadfkan untuk Masri tiu, terlindunglah Masri dati kesengsaraan dan kerhancuran.`”

                                                                                                (Navis, 2003:68)

6.          Kelebihan dan Kekurangan Novel Kemarau

                6.1 Kelebihan Kemarau

Novel Kemarau mengemukakan sikap dan niat perjuangan seorang guru agama dalam mengubah fokus pikiran dan kerangka berpikir masyarakat yang masih diliputi penalaran tradisional penuh dengan kekuatan takhayul dengan memegang tradisi nenek moyang tanpa diikuti nalar sehat atau sikap kritis. Bahkan hal ini sering tak sejalan atau berbenturan dengan ajaran agama yang mereka ikuti. Berdasarkan hal tersebut novel ini mempunyai peranan penting dalam khazanah sastra Indonesia dalam nuansa Islami.
Kemarau menampilkan problematika manusia dalam memahami dan menjalankan ajaran agama dalam konteks budaya dan tradisi yang berlaku dalam komunitas tertentu sebagai latar cerita. Ajaran agama dikemas oleh pengarang melalui nuansa motivasi tokoh dalam upaya memahami dan menjalankan ajaran agama di tengah masyarakatnya. Oleh karena itu, Kemarau tidak bersifat dogmatis, melainkan kisah perjuangan tokoh cerita dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.
Oleh A.A. Navis tema di atas dikemas melalui pengunaan bahasa yang lugas, dialogis, dan berisi. Hal ini memperkuat bahwa amanat  sampai kepada pembaca dengan baik, meski pengarang dikenal sebagai penulis bergaya satiris, sinis, dan jago mencemooh. [6] Tokoh cerita dikemas sebagai pibadi yang mampu mengundang simpati masyarakat sekitar sehingga secara bertahap pola berpikir dan cara hidupnya mampu mengubah pola dan cara hidup masyarakat.
Melalui novel Kemarau A.A. Navis berani menunjukkan dirinya sebagai penganut agama Islam yang baik, bukan sebagaimana ditudingkan oleh teman-teman sebelumnya bahwa ia penganut komunis akibat kesalahpahaman yang tk disengaja.  A.A. Naavis diundang dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Denpasar Bali, Agustus 1963, yang tak diketahuinya kegiatan itu disponsori oleh PKI. Akibatnya, dia dikucilkan oleh teman-teman pengarang lainnya di berbagai kota. Ketika menggubah Robohnya Surau Kami menjadi drama yang ditampilkan di Universitas Gadjah Mada, Bastari Asnin mengemukakan kekecewaannya atas kehadiran A.A. Navis dalam acara di Bali itu. Berdasarkan hal inilah Navis mempunyai greget menulis novel yang menunjukkan bahwa dirinya bukan komunis.


  1. Kekurangan Kemarau

Novel Kemarau memang karya sastra yang Amat penting dalam sastra Indonesia dengan karakteristik bercerita pengarangnya yang khas menggelitik pikiran pembaca. Hanya saja novel ini diakhiri dengan pola pengahiran seperti cerita pendek dalam kemasan singkat.
Pengarang mengakhiri cerita secara eksplisit jelas dan transparan, Namun, dikemas dalam rangkaian kata yang singkat dan deskriptif langsung sehingga tak memberikan peluang kepada pembaca untuk mengembangkan imajinasinya. Apalagi bila hal itu dilihat pada bagian ujung cerita tentang nasib tokoh-tokoh ceritanya.

















Referensi:


A.A. Navis: Karya dan Dunianya karangan Ivan Adilla, Penerbit Grasindo, Jakarta, halaman 167.

Ali Akbar Navis (In Memoriam), Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh dalam TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

Rahmanto, B.. Metode Pengajaran Sastra, saduran bebas dari The Teaching of Literature karangan H.L.B. Moody. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Navis, A.A., 2003. Kemarau. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.

TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

TokohIndonesiaDotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 29 Maret 2011, pukul 23.15 WIB. Teori Satra, dalam http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/10/teori-sastra-2.pdf, diakses 20 Maret 2011,  pukul 22.25 WIB







[1] TokohIndonesiaDotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 29 Maret 2011, pukul 23.15 WIB.
[2] B. Rahmanto, Metode Pengajaran Sastra, saduran bebas dari The Teaching of Literature karangan H.L.B. Moody, Penerbit Kanisius, halaman 13.
[3] A.A. Navis: Karya dan Dunianya karangan Ivan Adilla, Penerbit Grasindo, Jakarta, halaman 167.
[4] Dikutip dalam  Teori Satra, dalam http://istayn.staff.uns.ac.id/files/2010/10/teori-sastra-2.pdf, diakses 20 Maret 2011,  pukul 22.25 WIB
[5] Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo.
[6] Ali Akbar Navis (In Memoriam), Sastrawan, Sang Kepala Pencemoh dalam TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), diakses 31 Maret 2011, pukul 20.30 WIB

Wednesday, September 27, 2006

MENULIS RESENSI SEDERHANA SEBUAH BUKU

MEMBUAT RESENSI BUKU SECARA SEDERHANA

Ketika seorang pembaca selesai membaca sebuah buku, secara naluri suara hatinya berkata, “Buku ini lumayan baik saya baca. Saya merasa memperoleh kekayaan gagasan, konsep, imajinasi, dan pemikiran cerah yang menyegarkan serta memberi motivasi inklusif yang membuatku semakin sadar bahwa aku tak tahu tentang segala sesuatu. Memang, dibanding yang pernah aku baca, buku ini terasa amat efektif dalam gagasan, namun mengena, terkesan sederhana, namun realistis dalam kehidupan kita. Tak heran jika aku mengatakan buku ini bagus.”

Begitulah, ketika selesai mebaca sebuah buku, kita semakin tahu dan semakin berani memberikan pemilaian tentang unsur fisik, isi, bahasa, dan lain-lain dari buku itu. Dalam karya fiksi, kita mampu berkomentar, “Alur cerita buku ini terasa ampang, gampang ditebak, bahasanya sederhana namun pas dengan tokoh dan latar ceritannya. " Di sisi lain aspek intrinsik yang lain pun dapat ditilik.

Memang, menulis resensi buku sebenarnya mirip dengan memilih calon istri atau calon suami. Mengapa demikian? Karena suatu resensi, apa pun objeknya (resensi film, buku, drama, teater, pembacaan puisi, musik, dan sebagainya), pada akhirnya memberikan suatu penilaian, dan kemudian tentunya suatu pertimbangan, saran, kritik, dan usul kepada penulis, rekomendasi kepada pembaca untuk menentukan sendiri sikapnya terhadap objek yang diresensi tersebut.

Sebelum memilih istri, misalnya, si laki-laki akan membuat penilaian atas berbagai aspek. Aspek luar, yang bisa langsung terlihat: kecantikan, bentuk tubuh, cara bicara, cara makan, dan cara berpakaian, dari calon istrinya, ataupun aspek dalam, yang membutuhkan pengamatan lebih intens: kesabaran, kebaikan hati, sikap pengertian, kesetiaan, kecerdasan, dan sebagainya. Barulah setelah memilah-milah berbagai dimensi tadi akhirnya seorang lelaki harus berani mengambil keputusan berdasarkan "penilaian" yang dilakukannya. Itu merupakan tahapan yang mesti dilakukan manakala kita harus memilih sebuah pilihan, misalnya kepada sebuah buku.

Dalam meresensi buku dan karya-karya lain, hal serupa juga dilakukan. Apakah pertunjukan musik kelompok musik itu cukup bermutu? Apakah aksi panggungnya menarik? Bagaimana tata suaranya? Apakah dengan kualitas pertunjukan semacam itu, harga karcis masuk Rp 100.000 per orang tidak terlalu mahal?


Apakah buku novel terbaru karya Ayu Utami ini layak dibaca? Apa kelebihan atau kekurangannya dibandingkan karya Ayu sebelumnya, Saman? Adakah unsur-unsur yang baru dalam buku Ayu kali ini, dari segi jalan cerita, karakter tokoh-tokohnya, atau tema yang dipilih? Apakah isinya relevan dengan konteks situasi Indonesia masa kini? Dan seterusnya.


Adanya unsur penilaian inilah yang membedakan resensi buku dari sekadar ringkasan atau rangkuman isi buku belaka. Banyak penulis resensi yang lupa akan esensi suatu resensi, sehingga yang ia tulis sebenarnya cuma ringkasan isi buku. Sampai akhir tulisannya, pembaca tetap tidak tahu apakah buku itu memang layak dibaca atau tidak, apakah isinya bermutu tinggi, rendah, atau sedang-sedang saja.

Persyaratan dan Kriteria

  1. Buku yang mau diresensi

Untuk keperluan resensi buku di media massa, buku yang mau diresensi sebaiknya buku baru, jangan buku lama, meskipun resensi sebetulnya bisa dilakukan terhadap buku mana saja dan terbitan tahun berapa saja. Kalau resensi dilakukan tahun 2005, buku yang diresensi sebaiknya buku terbitan tahun 2005 juga. Hal ini karena media massa mementingkan aspek aktualitas.

Buku yang diresensi sebaiknya juga buku yang cukup baik dan layak dibaca. Pembaca tidak mau membuang-buang waktu untuk membaca resensi terhadap buku yang secara pengamatan kasar saja sudah terlihat betul-betul bernilai "sampah". Pengelola media massa juga tidak mau menyisihkan ruang di medianya untuk buku semacam itu, karena toh masih banyak buku lain yang jauh lebih bermutu.

Buku yang mau diresensi sebaiknya buku yang isinya memang kita anggap penting diketahui pembaca/masyarakat. Buat apa masyarakat disodori buku yang isinya tidak berkaitan dengan kepentingan mereka?

Ada bagusnya juga jika topik/tema buku yang diresensi itu relevan dengan konteks situasi yang berkembang. Sebagai contoh: ketika sedang ramai-ramainya aksi pemboman militer Amerika terhadap Afganistan, dengan dalih mencari tersangka teroris Osama Ben Laden, November 2001, Harian Kompas memuat resensi buku tentang Osama Ben Laden. Aspek kontekstualitas ini penting bagi media massa.

2. Persyaratan bagi Peresensi

Peresensi sebaiknya memiliki bekal pengetahuan yang memadai untuk memahami isi buku bersangkutan. Peresensi yang sama sekali tidak tahu sastra, dan tidak pernah membaca buku-buku sastra, tentu akan sulit kalau disuruh meresensi novel baru karya Pramudya Ananta Toer.

Contoh lain, orang yang tidak pernah belajar fisika disuruh meresensi buku karya pemenang Nobel Fisika tahun 2005. Ya, kalau dipaksakan tentu saja bisa, tetapi kualitas resensi macam apa yang bisa kita harapkan dari sini?

Ada suatu penerbitan di Amerika, yang isinya sepenuhnya adalah resensi-resensi buku. Yang hebat, para pembuat resensi itu bukan orang sembarangan, tetapi para ahli dan pakar (beberapa di antaranya pemenang Hadiah Nobel). Buku yang diresensi pun adalah karya terpilih, juga karangan orang-orang hebat.

Akibatnya, resensi-resensi yang umumnya sangat panjang dan mengupas secara mendalam isi buku tersebut bernilai tinggi, bahkan mungkin tidak kalah dengan isi buku yang diresensi itu sendiri. Dengan membaca resensi semacam itu, yang ditulis oleh mereka yang sangat menguasai bidang keahliannya, pembaca mendapat tambahan pengetahuan yang luar biasa.

3. Hal-hal apa yang patut dinilai dalam resensi buku:

Seperti contoh dalam kasus memilih calon istri, dalam meresensi (menilai) suatu buku, secara garis besar ada dua aspek yang bisa dinilai: aspek luar (penampilan) dan aspek dalam (isi).

4. Aspek luar, misalnya:

Perwajahan kulit muka. Apakah kulit mukanya enak dipandang dan menarik?
Berat dan ketebalan. Apakah ukuran buku ini terlalu besar, atau justru terlalu kecil? Apakah terlalu berat, terlalu tebal, atau terlalu ringan dan tipis?
Desain halaman dalam. Apakah desainnya menarik sehingga enak dipandang, atau malah membosankan?

Jenis kertas yang digunakan. Apakah jenis kertasnya (kertas koran, HVS, art paper, kertas daur ulang, dan sebagainya) berwarna terang atau suram? Apakah terlalu berat atau ringan? Apakah kuat atau rapuh.
Jenis huruf/tipografi yang digunakan. Apakah tipografi yang digunakan terlalu kecil, sehingga menyulitkan pembaca? Atau justru terlalu besar, sehingga boros halaman? Apakah tipografinya terkesan terlalu kaku?
Foto, gambar, sketsa, grafik, tabel yang digunakan. Apakah foto dan gambar yang dipasang itu jelas dipandang? Apakah grafik dan tabel yang dipasang mudah dipahami dan efektif?

Harga buku. Apakah terlalu mahal? Dan lain-lain.

5. Aspek isi, misalnya:

Apa pokok pikiran yang diajukan penulis? Data dan argumen apa saja yang ia ajukan untuk mendukung pokok pikiran tersebut?

Apakah pokok pikiran, argumen, data dan ide-ide yang tertuang di dalam buku itu cukup orisinil?

Pendekatan atau metodologi apa yang ia gunakan dalam membahas masalah dan pokok pikiran dalam buku itu?

Adakah unsur, pendekatan, perspektif atau pengetahuan baru, yang bisa diperoleh dengan membaca buku ini? Ataukah isinya sama saja dengan buku-buku lain yang sudah lebih dulu beredar?

Apakah isinya relevan dengan konteks situasi yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini?

Apa kontribusi buku ini dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan tertentu, yang terkait dengan tema buku ini?

Apakah buku ini disusun secara cermat, teliti, mendalam, atau terkesan ceroboh dan tergesa-gesa?

Apakah sistematika pembahasan dalam buku ini bersifat logis, teratur dan memudahkan pembaca untuk memahami, atau justru sebaliknya rumit, berbelit-belit dan membingungkan?

Adakah kesalahan fakta, data, atau analisis, dalam buku ini? Apakah datanya valid? Adakah bias dari si penulis dalam melihat permasalahan?

Apa tujuan pengarang menulis buku ini? Apakah tujuan itu tercapai dengan terbitnya buku ini?

Apakah si pengarang memiliki kompetensi yang cukup untuk menulis buku ini? Seorang sosiolog tentu akan dipertanyakan kredibilitasnya jika ia menulis buku tentang Ilmu Bedah Kedokteran.

Siapa khalayak pembaca buku ini? Apakah isi buku ini bersifat terlalu mendalam, sehingga lebih tepat untuk pembaca tertentu yang memang memiliki kualifikasi khusus (kalangan akademis atau profesional), atau buku ini cocok juga untuk kalangan pembaca yang lebih awam?

Dan lain-lain.

6. Macam-macam Pola Penulisan Resensi:

Tidak ada pedoman baku dalam penulisan resensi. Namun secara kasar, penulisan resensi untuk media massa mengikuti konvensi umum seperti dalam penulisan artikel lain. Unsur-unsurnya sebagai berikut:

Judul resensi yang menarik. Di media massa, judul yang menarik (eye-cathing) ini perlu dan mutlak.

Deskripsi judul buku, nama pengarang (atau penyunting), nama penerbit, tahun terbit, kota tempat penerbitan, jumlah halaman, dan harga buku (boleh dicantumkan, boleh juga, tidak). Ini disebut Heading dan biasanya dicantumkan di awal resensi. Misalnya: Makna Cinta dan Perkawinan di Era Globalisasi, Dian Kencana Dewi, Bandung: Unpad Press, 2005, vii + 237 hlm.

Alinea pembuka (dalam teknik penulisan berita, disebut sebagai lead). Alinea pembuka atau lead ini bersifat sebagai pemancing agar pembaca mau membaca resensi, maka lead ini harus dibuat semenarik mungkin. Dalam membuat lead, peresensi, misalnya, bisa mengaitkan isi buku ini dengan konteks situasi yang sedang hangat di masyarakat. Misalnya: buku bertema tentang korupsi diterbitkan ketika sedang ramai-ramainya pengadilan kasus korupsi terhadap seorang pejabat tinggi. Lead bersama judul berfungsi penting sebagai penarik minat pembaca.

Deskripsi atau rangkuman tentang isi buku. Di sini peresensi merangkum isi atau esensi buku secara ringkas. Tentu saja, pembaca tidak bisa menilai suatu buku jika bahkan gambaran ringkas isinya pun ia belum tahu. Dalam merangkum isi buku ini, peresensi boleh mengutip satu atau dua kalimat atau alinea yang menarik dari buku tersebut, yang bisa makin memperjelas gambaran isinya.

Komentar, evaluasi dan penilaian. Inilah esensi dari suatu resensi, yakni si peresensi mengomentari dan menilai suatu buku dari berbagai aspek: aspek luar dan aspek isi. Karena keterbatasan ruang di media cetak, tentu tidak perlu seluruh aspek ini dibahas secara rinci. Peresensi boleh memilih aspek-aspek mana yang menurutnya paling penting untuk diulas dan disampaikan kepada pembaca.

Kalimat penutup dan rekomendasi. Dalam kalimat penutup ini, peresensi kadang-kadang secara tegas merekomendasikan bahwa buku bersangkutan memang layak atau tidak-layak dibaca. Kadang-kadang, rekomendasi tegas semacam itu tidak diungkapkan, karena pembaca dianggap sudah bisa menyimpulkan sendiri berdasarkan ulasan panjang sebelumnya.

Identitas si peresensi sering juga dicantumkan di bagian akhir resensi. Manfaatnya adalah untuk menunjukkan kredibilitas si peresensi dalam meresensi buku bertema tertentu. Misalnya, di akhir sebuah resensi tentang buku Kehumasan, identitas peresensi disebutkan: Dian Eka Puspitasari, staf Humas Trans TV. Artinya, si peresensi mau menunjukkan, ia adalah praktisi Humas dan karena itu memiliki cukup kompetensi untuk meresensi buku bertema kehumasan.

Sumber: Satrio A. dan sumber lain